SEJARAH LAHIR NYA PANCASILA .(Part 2 )

Panitia sembilan itu berhasil mengakomodasikan pemikiran-pemikiran di atas dan merumuskannya dalam suatu naskah. Ada yang mengatakan bahwa naskah ini nantinya akan dijadikan sebagai pernyataan kemerdekaan, namun perkembangan kemudian menjadi konsep Pembukaan (Preambul) UUD 1945. rumusan konsensus dari pertemuan tersebut dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Dalam naskah ini terdapat rancangan dasar negara, yang berbunyi :

1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya;

2. kemanusiaan yang adil dan beradab;

3. persatuan Indonesia;

4. kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan;

5. keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Perlu dicatat bahwa kata “Pancasila” sendiri, walaupun telah diungkapkan oleh Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945, sama sekali tidak disebut-sebut dalam rancangan pembukaan hukum dasar itu (Piagam Jakarta) itu. Hasil rumusan Panitia Sembilan ini dilaporkan kepada Panitia Delapan dan diterima sepenuhnya. Selanjutnya oleh Panitia Delapan, rumusan itu dilaporkan dalam Sidang Kedua BPUPKI tanggal 10 Juli 1945. laporan ini diterima dengan sangat antusias. Sidang BPUPKI ini berlangsung sampai tanggal 17 Juli 1945.

Sidang Kedua BPUPKI diawali dengan perkenalan enam anggota baru BPUPKI. Dengan demikian, tercatat jumlah anggota BPUPKI menjadi 66 orang, ditambah dengan satu ketua dan dua wakil ketua.

Keesokan harinya, tanggal 11 Juli 1945, BPUPKI membentuk tiga panitia, yaitu : (1) Panitia Perancang Undang-Undang Dasar (diketuai Ir. Soekarno), (2) Panitia Pembelaan Tanah Air (diketuai Abikusno Tjokrosujoso), dan (3) Panitia Soal Keuangan dan Perekonomian (diketuai Drs. Moh. Hatta).

Panitia Perancang Undang-Undang Dasar membentuk lagi satu panitia kecil di bawah pimpinan Prof. Mr. Dr. Soepomo. Tugas panitia ini dibantu oleh tim lain lagi, yang disebut Panitia Penghalus Bahasa, terdiri dari Husein Djadiningrat, H. Agoes Salim, dan Soepomo. Hasil pekerjaan Panitia Perancang Undang-Undang Dasar ini dapat diselesaikan dalam waktu tiga hari, dan hasilnya dilaporkan oleh Ir. Soekarno kepada BPUPKI tanggal 14 Juli 1945. ada tiga naskah yang disampaikan oleh Panitia ini :

1. Rancangan Pernyataan Indonesia Merdeka, yang isisnya diambil dari Alinea 1,2 dan 3 rancangan pembukaan hukum dasar (Piagam Jakarta), yang ditambah dengan hal-hal lain sehingga merupakan satu teks yang agak panjang;

2. Rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar, yang isisnya diambil dari Alinea 4 rancangan pembukaan hukum dasar (Piagam Jakarta);

3. Rancangan (Batang Tubuh) Undang-Undang Dasar, yang terdiri dari 15 bab, 42 pasal termasuk Aturan Peralihan dan Aturan Tambahan.

Dua naskah yang pertama di atas, setelah melalui perdebatan, akhirnya diterima oleh Sidang BPUPKI pada tanggal 14 Juli 1945 itu. Pembahasan tentang Rancangan (Batang Tubuh) Undang-Undang Dasar diteruskan esok harinya.

Salah satu perdebatan yang akan diuraikan di bawah nanti terjadi pada tanggal 14 Juli 1945 dalam sidang Panitia Perancangan Undang-Undang Dasar, yakni mengenai kalimat “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar pada tanggal 15 Juli 1945 memberikan penjelasan umum tentang dasar, falsafah dan sistem yang dipakai dalam menyusun Rancangan Undang-Undang Dasar itu. Setelah mendengarkan penjelasan dari Ketua Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, sidang dilanjutkan dengan mendengarkan uraian lisan Soepomo selaku Ketua Panitia Kecil Perancang Undang-Undang Dasar. Ia mengemukakan secara rinci pasal demi pasal dari batang tubuh rancangan undang-undang dasar itu. Dapat diduga bahwa setelah itu muncul banyak sekali tanggapan dan pemikiran. Terjadilah suatu perdebatan yang sangat konstruktif, misalnya saja mengenai perlu tidaknya dimasukkan rumusan tentang hak warga negara untuk mengeluarkan pendapat dalam undang-undang dasar. Tokoh-tokoh seperti Soepomo menganggap hak demikian tidak perlu dicantumkan secara eksplisit karena khawatir akan mengarah kepada paham individualisme dan liberalisme. Di sisi lain, tokoh lain seperti Muhammad Hatta, berpendapat pencantuman hak demikian tetap perlu sekalipun beliau sendiri juga tidak setuju dengan paham individualisme dan liberalisme. Kompromi dari perdebatan tersebut akhirnya menghasilkan rumusan Pasal 28 UUD 1945 yang kita kenal sekarang ini.

Perubahan-perubahan yang telah disepakati bersama segera dimasukkan dalam rancangan itu, dan pada tanggal 16 Juli 1945 BPUPKI berhasil menyelesaikan tugas pokoknya. Badan ini tidak sekedar menyelidiki persiapan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga berhasil menentukan dasar dan bentuk negara, sekaligus merancang undang-undang dasarnya. Keesokan harinya, disetujui pula dua rancangan dari Panitia Pembelaan Tanah Air dan Panitia soal keuangan dan Perekonomian. Perlu dicatat, bahwa BPUPKI juga telah menghasilkan Rancangan Pernyataan Indonesia Merdeka dan Rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, walaupun kedua naskah di atas pada akhirnya tidak digunakan karena diganti dengan naskah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan naskah Piagam Jakarta secara utuh (dengan perubahan-perubahannya).

Sesuai melaksanakan tugasnya, BPUPKI melaporkan kepada Pemerintah Balatentara Jepang disertai usul agar tugas mempersiapkan kemerdekaan Indonesia itu ditindaklanjuti oleh badan baru yang akan dibentuk kemudian. Usul ini diterima, dan pada tanggal 7 Agustus 1945 diumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Linkai.

Pembentukan PPKI diadakan dalam suasana Perang Asia Timur Raya yang makin menghebat. Dua hari berturut-turut sebelumnya, yakni tanggal 6 dan 7 Agustus 1945, dua kota penting di Jepang (Hiroshima dan Nagasaki) dijatuhi bom oleh pihak sekutu. Dengan demikian detik-detik kekalahan Jepang dalam perang itu semakin dekat.

Satu hari setelah pengumuman pembentukan PPKI, yakni tanggal 8 Agustus 1945 tiga tokoh pemimpin Indonesia (Soekarno, Hatta dan Radjiman Wedyodiningrat) diundang ke Dalat, sebuah kota dekat Saigon (sekarang kota Ho Chi Minh) di Vietnam Selatan oleh Marsekal Hisaichi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang Jepang untuk Asia Selatan/Tenggara. Baru tanggal 9 Agustus 1945 ketiga pemimpin bangsa Indonesia itu dapat berangkat dengan pesawat terbang dari Jakarta dan diterima oleh Terauchi tanggal 12 Agustus 1945. pada kesempatan itu Terauchi pada intinya mengatakan bahwa Pemerintah Jepang (di Tokyo) telah memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dan untuk melaksanakan kemerdekaan itu diserahkan kepada PPKI.

Pada kesempatan itu pula Terauchi mengangkat Soekarno dan Moh. Hatta sebagai Ketua dan Wakil Ketua PPKI, dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai anggota. Di samping Radjiman, juga diangkat 18 anggota lainnya yang mencerminkan wakil-wakil masyarakat Indonesia dari Jawa, Sumatra, Sulawesi Kalimantan, Sunda Kecil, Maluku, dan Keturunan Cina. PPKI ini dapat mulai bekerja tanggal 19 Agustus 1945. bagaimana mekanisme dan kapan pekerjaannya harus diselesaikan, sepenuhnya diserahkan kepada PPKI. Direncanakan sidang PPKI akan dimuali tanggal 20 Agustus 1945, dan kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan tanggal 24 Agustus 1945. sekembalinya di Indonesia, Ketua PPKI Soekarno menambahkan enam anggota baru. Langkah Soekarno ini dapat dipandang penting agar PPKI terhindar dari kesan sepenuhnya sebagai “badan bentukan Jepang”. Dilihat dari komposisi keanggotaannya, dapat dikatakan PPKI telah mencerminkan sebagian besar unsur-unsur masyarakat Indonesia.

Ternyata sejarah mencatat terjadi perkembangan keadaan yang lebih cepat daripada rancana yang telah ditetapkan semula untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Jepang telah takluk kepada Sekutu, namun Tentara Sekutu sendiri belum sempat mengambil alih Indonesia dari tangan Jepang. Penyerahan Jepang sendiri praktis telah mengaburkan janji kemerdekaan yang akan diberikannya kepada bangsa Indonesia. Hal ini berkaitan dengan perjanjian negara itu kepada Sekutu untuk mempertahankan “status quo” daerah-daerah jajahannya (termasuk Indonesia, tentunya).

About keytara79


Comments are disabled.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: